Tips to break the habbit! PDF Print E-mail
Hers Life | Your Career
Goodbye Shopaholic: Tips to break the habbit!

Bagi sebagian orang, menikmati karya seni tak melulu dengan bertandang ke galeri lukisan yang memajang karya-karya apik dari maestro kenamaan. Namun, pusat perbelanjaan atau yang populer disebut mall, memiliki arti seni tersendiri. Produk-produk terbaru yang di pajang pada setiap gerai bak memiliki sentuhan magis, tak jarang yang jatuh ke dalam perangkapnya. Kemudian mereka berubah menjadi sosok yang sangat loyal dalam menggesek kartu sakti yang bernama credit card.

Kita ibaratkan saja produk yang di pajang di gerai-gerai yang ada di mall sebagai sebuah karya seni (dan memang sebenarnya banyak yang patut disebut sebagai karya seni). Bagaimana cara menghargai karya seni? Tentu saja dengan mengamatinya lamat-lamat, sambil berucap kagum “oh, betapa indahnya”. Puaskah Anda hanya mengamatinya sembari membayangkan betapa indahnya jika benda itu dikenakan pada tubuh Anda? Bukankah dengan membeli karya seni maka kita telah memberi penghargaan tertinggi terhadap benda itu? Harga yang mahal itu tidak ada bandingnya kan, dengan opini orang ketika benda itu dikenakan nanti? Ucap suara hati, yang sering kali muncul disaat kita melangkahkan kaki di sebuah pusat perbelanjaan.

Selamat datang di dunia nyata! Mari kita berkenalan lebih lanjut dengan istilah shopaholic. Sophie Kinsela, pengarang serial Confession of Shopaholic yang baru-baru ini telah dirilis filmnya, tak berbohong. Bahwa di dunia ini memang ada orang-orang yang memiliki kecanduan terhadap belanja. Sama halnya dengan para perokok yang tak bisa berhenti menghisap batang-batang rokok setelah makan, shopaholic bahkan lebih tak tertahankan.

Shopaholic tidak mengenal usia, gender, kewarganegaraan, bahkan status sosial. Berhati-hatilah wahai para Yuppies, Anda memiliki potensi besar untuk menjadi seorang shophaholic sejati. Mengapa Yuppies? Karena Yuppies (kependekan dari Young Upwardly Mobile Urban Professionals) adalah orang-orang yang secara general berada pada kisaran umur pada late twenties to mid-thirties, profesonal muda, yang terbiasa dengan kondisi urban yang gegap gempita.

Di usianya yang masih bisa di katakan muda belia, mereka telah berhasil mencapai penghasilan di tingkat upper middle class. Selain itu tuntutan sosial yang mengaharuskan sebagain orang untuk tampil stunning disetiap kesempatan juga menjadi salah satu faktor compulsive spender. Tidak hanya benda fesyen yang menjadi target, semua barang yang dikategorikan trendy, baru, tentu saja mengangkat status sosial, yang pada akhirnya hanya menjadi penghias lemari Anda.
Apakah Anda salah satunya? Dan kemudian disetiap akhir bulan mengalami rasa penyesalan sangat karena besar pasak daripada tiang? Berikut ini adalah beberapa tips untuk berdamai dengan kebiasaan Anda.

1.  Only carry cash

Mulailah membiasakan diri untuk menarik tunai rekening Anda. Namun, bijaksanalah ketika melakukannya. Buatlah daftar kebutuhan Anda sebelum berbelanja. Jangan gunakan juga fasilitas debit yang ditawarkan oleh bank kepercayaan Anda. Merasa tidak nyaman dan so old fashioned? Tentu saja, tapi itulah intinya! Goal Anda adalah untuk menghentikan kebiasaan boros. Untuk mencapai tujuan tersebut Anda harus melakukan berbagai pengorbanan. Pastikan Anda hanya membeli barang yang benar-benar Anda perlukan dan Anda akan menggunakannya dalam waktu secepatnya.

2. Cut up your credit cards.
Berapa banyak kartu kredit yang Anda miliki? 5, 10 atau bahkan lebih dari 15 kartu? Untuk apa sajakah Anda menggunakannya, dan bagaimana Anda membayar semua tagihan yang di kirimkan itu? Cut up your credit cards. Ayo lakukan sekarang!. “Tapi saya membutuhkannya untuk saat-saat emergency”, “Saya akan mendapatkan cash back pada akhirnya”, “Itu sangat tidak nyaman”, jangan hiraukan suara-suara hati Anda yang menjerit. Jika Anda benar-benar memiliki masalah dengan pemborosan, segera musnahkan kartu kredit Anda sekarang.

Berhentilah membuat daftar “just in case” sekarang. Bagi Anda sang pembelanja akut yang ingin kembali normal dan mengatur cash flow secara bijak, Anda tidak membutuhkan semua kartu kredit ini. Akan tetapi, sebelum membatalkan semua kartu kredit Anda, pastikan semua tagihan telah Anda lunasi.

3. Avoid temptation
Cara terbaik untuk menghindari menghabiskan banyak uang pada barang kesukaan kita adalah dengan menghindari tempat ia dijual. Misalnya jika Anda tak pernah bisa menahan untuk membeli cd musik terbaru (walaupun Anda tidak begitu suka, namun sang penyanyi sedang menjadi hits dimana-mana), menjauhlah dari toko cd. Begitu juga dengan sale besar-besaran yang di tawarkan beberapa department store. Anda akan lebih kalap daripada biasanya. Tulisan sale up to 70% itu malah akan memicu Anda untuk membeli beberapa barang yang tidak Anda perlukan sama sekali.

4.  Track every penny you spend
Saat Anda sedang kalap berbelanja, biasanya Anda jadi tidak peduli dengan berapa jumlah nominal yang Anda keluarkan. Mulai sekarang coba untuk melacak setiap pembelanjaan Anda. Dimulai dari kebiasaan sehari-hari dan hal-hal kecil, misalnya berapa banyak yang Anda habiskan untuk makan siang, sekedar meminum kopi, hingga belanja bulanan yang rutin dilakukan.

    Tanpa bermaksud untuk menjadi kikir, ataupun perhitungan. Ada bainya Anda mencatat pengeluaran Anda dalam satu bulan. Membuat laporan keungan dengan melacak nota pembelian juga tak ada salahnya. Selain itu juga jatahkan saving Anda setiap bulanan, sehingga paling tidak, jika Anda sedang kalap maka Anda masih memiliki sisa cash untuk ditabung.

5. Ask for help
Menghentikan kecanduan belanja terkadang sulit jika dijalani sendiri. Jangan malu, terbukalah dengan orang-orang terdekat Anda, dan mintalah support dari mereka juga. Jika Anda merasa sudah tidak dapat mengkontrol kebiasaan boros Anda, tak ada salahnya juga untuk bertemu dengan financial planner yang dapat membantu mengatasi masalah Anda.

Are You a Shopaholic? (Quiz) 
                           
Apakah Anda seseorang yang gemar berbelanja?  Apakah teman-teman Anda memanggil Anda “shopping junkie”? Ikutilah kuis di bawah ini dan temukan apakah Anda seorang penggila belanja?

1. Anda melihat celana yang sangat adorable di bagian sale, tapi ternyata ukurannya dua kali lebih kecil dari ukuran Anda, dan Anda telah dua kali belanja pada minggu ini. Yang Anda lakukan adalah:

A. Tetap membelinya. Setelah ini Anda akan tenggelam dalam diet ketat hingga celana itu muat. Celana itu adalah motivasi baru untuk melakukan diet yang tertunda.
B. Menaruhnya kembali ke dalam rak. Lemari baju itu sudah semakin sempit, tak perlu ditambahkan lagi. Lagi pula, Anda sedang dalam tahap menghilangkan kebiasaaan belanja.
C. Tetap mengambilnya, namun sambil berpikir sementara Anda browsing barang lainnya. Jika pada akhirnya Anda memutuskan untuk tidak membelinya, toh Anda masih dapat berkata kepada kashier, bahwa Anda berubah pikiran.

2. Sahabat-sahabat tercinta Anda yang akhir-akhir ini jarang bertemu karena kesibukan masing-masing mengundang untuk shopping bersama akhir pekan ini. Padahal kondisi keuangan Anda sedang parah akhir bulan ini. Anda:

A. Pasti akan ikut serta! Anda tak bakalan melewatkan shopping bersama sahabat-sahabat tercinta. Tak ketinggalan kartu kredit untuk membayar barang-barang yang di sale. Anda akan sangat menyesal melewatkan sale.
B. Berkata tidak pada mereka. Anda memiliki budget sendiri, dan berencana mematuhinya.
C. Ikut serta bersama mereka, namun Anda akan meninggalkan kartu kredit dan debit Anda dirumah, dan membawa uang secukupnya. Jika perlu membawa bekal makan siang sendiri.

3. Cashier di department store langganan Anda akan memberikan penawaran tambahan diskon sebesar 15% hari ini, jika Anda membuat kartu membership. Anda:

A.  Apply on the spot. Anda tak mau melewatkan kesempatan berharga hari ini. Sepatu bermerk yang telah Anda incar akan mendapatkan diskon tambahan.
B. “Tidak, terima kasih atas tawarannya”, ujar Anda sembari membayar dan melenggang meninggalkan sang cashier.
C. “Saya akan memikirkan lebih lanjut”, ujar Anda. Setelah itu mengambil brosurnya, kalau-kalau Anda tertarik nanti, Anda akan menelpon department store tersebut.

4. Hari Sabtu telah tiba. Yang Anda lakukan adalah:

A. Shopping di mall kesayangan, sembari scanning dengan jeli, siapa tahu ada diskon.
B. Dirumah, dan membersihkan dapur serta seisi ruangan yang terbengkalai selama seminggu belakangan.
C. Duduk di ruang keluarga, siap meninfentaris semua kupon-kupon belanja yang Anda dapatkan. Mungkin minggu depan Anda akan bergerak untuk mencairkan kupon-kupon itu.

5. Anda mendapatkan bonus tahunan yang lebih besar daripada biasanya. Yang Anda lakukan :

A. Langsung pergi shopping. Akhirnya sepatu boots incaran Anda dapat di beli cash hari ini.
B. Segera mentransfer semuanya ke deposito Anda. Shopaholic? Itu bukan nama tengah Anda.
C. Membagi separuhnya untuk di masukkan ke dalam deposito. Sisanya, Anda gunakan untuk bersenang-senang.

6. Shopping is:

A. Hidup Anda. Rasanya tak bisa membayangkan hidup tanpa belanja. Semua orang memanggil Anda shopaholic.
B. Horrible. Siapa yang pernah menghabiskan uang seperti yang Anda lakukan? Anda dapat pergi berjalan-jalan tanpa berbelanja, dan ternyata Anda merasa baik-baik saja. Belanja hanyalah pemborosan.
C. Fun. Tidak terlalu sering dan menjadi keharusan. Namun satu-atau dua jam saja berjalan-jalan di pusat perbelanjaan ternyata dapat menjadikan Anda relax juga.

Hitunglah jawaban Anda, apakah lebih banyak jawaban A, B, atau C. Berikut ini adalah keterangannya:
Kebanyakan jawaban Anda A – Anda butuh pertolongan! Anda benar-benar kecanduan belanja, dan seorang shopaholic sejati. Shopping bagi Anda adalah cara Anda mengalihkan perhatiandari hal-hal lainnya dalam hidup Anda. Jika diteruskan bisa menjadi obsesi yang tiada akhir dan berdampak besar bagi kondisi financial Anda. Ayo, segeralah mengubah kebiasaan Anda.

Kebanyakan B - Anda bukan seorang shopaholic. Malahan bagi Anda membelanjakan uang membuat Anda merasa gelisah. Anda adalah tipe orang yang akan berpikir berkali-kali sebelum membelanjakan uang Anda. Anda cenderung takut berbelanja karena khawatir apa yang akan di beli tidak sesuai dengan kebutuhan.

Kebanyakan C – Anda adalah orang yang dapat menyeimbangkan antara pengeluaran dan pemasukan. Anda senang belanja dan memanjakan diri sendiri, namun Anda masih ingat dengan menabung. Anda pun termasuk kategori orang yang memiliki penilaian baik dalam menentukan barang mana yang pantas dibeli dan tidak.

Teks: Desy Budi
Foto: corbis.com



 

Members Login

advert1

Get Adobe Flash player