| Woman Rules |
|
|
|
| Hers Life | Your Career | |||
Woman Rules: When Your Working Partner All WomanTengoklah sekeliling Anda, berapa banyak wanita yang menjadi rekan kerja Anda? Apakah mayoritas rekan kerja Anda, termasuk sang pimpinan wanita? Benarkah memiliki rekan kerja wanita lebih nyaman daripada pria? Temukan beberapa “kunci” untuk menciptakan hubungan kerja yang harmonis ditengah-tengah rekan wanita Anda. Banyak sekali penyanyi maupun band yang terinspirasi dengan kaum hawa. Sebagai contoh beberapa waktu silam, Ada Band sempat meluncurkan single yang bertajuk “Karena Wanita Ingin Di Mengerti”. Tembang itu sempat menjadi hits yang tak terlupakan selama beberapa bulan setelah peluncurannya. Lagu itu telah menginspirasi banyak orang, kaum pria terutama. Menyadarkan akan sebuah kenyataan bahwa wanita sebagai mahluk yang memiliki sifat feminin yang lebih banyak dibandingkan pria merupakan mahluk Tuhan yang cukup complicated. Dalam lingkup kerja yang universal, dimana wanita dan pria diberikan kesempatan yang sama dalam hal berkarya, diperlukan juga toleransi yang tinggi agar tercipta hubungan kerja yang harmonis dan produktif. Bagaimana pun isi kepala seorang wanita dan pria berbeda, dan sudut pandang keduanya adalah unik. Seorang wanita hanya ingin dimengerti, karena wanita memiliki peran ganda dalam kesehariannya. Ia menjadi seorang pekerja keras, seorang anak yang patuh pada kedua orang tuanya, seorang ibu yang hebat bagi anak-anaknya dan sandaran hati sang suami ataupun kekasih. Sebelum melangkah lebih lanjut, ingatlah bahwa Anda sendiri seorang wanita! Memiliki berbagai tuntutan dan masalah tersendiri, dan menginginkan toleransi serta pengertian dari orang-orang disekeliling Anda. Rekan kerja wanita Anda pun menginginkan hal yang sama. Namun, kadang kala tidak semua orang dapat bersikap cukup asertif dan berani mengutarakan apa yang dirasa. Sebagai seorang profesional yang bijak, Anda harus dapat memilah-milah beberapa hal yang patut dan tidak patut Anda lakukan di kantor. Berikut adalah beberapa tips yang dikemukakan oleh psikolog Veronika Soepomo.Don’t: Bergosip ria di kantor Mungkin terdengar cliché, namun ini adalah sumber dari semua permusuhan yang terjadi di kantor. Ingatlah bahwa ada asap karena ada api. Jangan memulai bergosip di kantor. Misalnya, jika Anda kebetulan menemukan fakta bahwa rekan kerja Anda menjadi istri kelima dari seorang pengusaha yang menikah siri, tidak perlu Anda ceritakan pada rekan kerja Anda lainnya. Walaupun itu benar adanya, simpanlah fakta tersebut untuk diri Anda sendiri. Bagaimana pun itu bukan urusan Anda, dan jika rekan Anda sendiri tidak ingin fakta ini diketahui orang, maka sangatlah tidak bijak jika Anda malah dengan suka rela menyiarkan fakta itu di saat makan siang bersama. Reputasi menjadi tukang gossip andalan di kantor tidaklah bermakna positif, salah-salah malah rekan kerja Anda akan menghindari Anda. Anda pun bisa di cap serigala berbulu domba. Don’t: Share Your Personal StoryRekan kerja Anda bukanlah seorang psikolog profesional yang dengan senang hati akan membantu Anda mengatasi masalah-masalah pribadi yang mengganggu. Bagi sebagian orang, terutama tipe penggosip, masalah pribadi menjadi sasaran yang paling empuk untuk dibahas. Tanpa sadar, ketika Anda larut dalam curhat yang berkepanjangan, mereka mengambil kesempatan untuk mencari celah untuk dijadikan bahan gunjingan. Apa pun itu, masalah hutang yang melilit, masalah Anda dengan pasangan, hingga rahasia Anda di masa lalu, tidak pantas untuk diperbicangkan dengan rekan kerja Anda. Lebih baik Anda mendiskusikan masalah yang sifatnya umum dan tidak sensitif. Seperti misalnya, tentang tren fesyen di tahun 2009, tentang berita entertainmet, atau topik yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat. Jika ingin menumpahkan curahan hati Anda, lebih baik Anda mengunjungi psikolog yang ada di kantor atau membaginya dengan sahabat dan keluarga sendiri. Terkadang juga, tidak semua orang suka dibagikan kisah yang sifatnya pribadi. Bukannya simpati yang Anda dapatkan, malahan sunggingan senyum sinis yang akan dilemparkan. Do: Saling Perhatian Seperti di ungkapkan diatas, bahwa “wanita ingin dimengerti”. Tidak ada salahnya menaruk empati pada rekan kerja Anda. Mulailah dari hal-hal yang kecil, seperti mengingat tanggal ulang tahun misalnya, atau menanyakan keadaan kesehatannya ketika sakit. Tak perlu repot bertanya tentang arsip riwayat hidup rekan Anda pada bagian HRD. Manfaatkan teknologi yang ada, seperti jaringan facebook yang saat ini telah menjadi bagian yang “wajib” bagi masyarakat modern Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah urban. Reminder di halaman Anda senantiasa menunjukkan hari ulang tahun friend list Anda. Walaupun hanya sekedar mengucap lewat wall di halaman facebook, namun itu menandakan Anda menaruh perhatian pada rekan Anda. Tanpa bermaksud untuk menjadi “sok perhatian”, bisa saja Anda menanyakan Don’t: Membuka Rahasia Kantor Setiap perusahaan pasti memiliki rahasianya sendiri. Mungkin kebetulan Anda adalah salah satu orang kepercayaan dari pimpinan Anda, dan banyak mengetahui beberapa kebijakan serta beberapa rahasia yang ada. Ingatlah, Anda tidak punya kapasitas untuk membaginya dengan rekan lainnya. Bagaimana pun tentu saja pimpinan Anda mengharapkan Anda dapat menjaga amanah rahasia tersebut. Sebelum Anda kelepasan berbicara atau dengan sengaja membongkar rahasia tersebut dengan menggunakan kata-kata sakti seperti “jangan bilang siapa-siapa ya”, coba renungkan sejenak. Rekan yang Anda beritahu mungkin juga akan bersikap seperti Anda. Pikirkan lagi masak-masak bagaimana jadinya jika pimpinan Anda mengetahuinya. Bukan tak mungkin Ia tidak akan bersimpati lagi terhadap Anda, hingga yang paling parah, pemutusan hubungan kerja secara permanen. Do: Berbagi Cerita Yang Menarik Daripada sibuk membicarakan keburukan orang lain, lebih baik gunakan waktu makan siang Anda menjadi sebuah ajang diskusi yang seru. Topik-topik seperti hobi di kala sengggang, hingga tempat berlibur yang menyenangkan patut juga dibahas. Ciptakanlah kondisi pertemanan yang akrab dengan membahas hal-hal yang menyenangkan. Siapa tahu Anda dan rekan kerja Anda bisa berbagi beberapa tips dan menemukan teman untuk menekuni hobi yang sama. Do: Outing Berkutat dengan pekerjaa yang menumpuk kadang kala membuat Anda stress. Jika sudah begitu, kadang kala emosi kian memuncak, dan membuat Anda menjadi pribadi yang mudah tersinggung. Sesekali pergilah bersama-sama rekan kerja Anda untuk melepas stress. Banyak perusahaan yang telah memasukkan kegiatan outbond dan family gathering. Jangan lewatkan program tersebut, selain refreshing bersama rekan sekantor, Anda pun dapat lebih mengenal lebih dekat satu sama lain. Tak hanya itu, kekompakan Anda sebagai sebuah tim pun pastinya akan menjadi lebih dari sebelumnya. Namun tak hanya momen gathering saja yang dapat Anda lakukan. Hal-hal kecil seperti shopping, nonton bareng dan karaoke bersama rekan kerja Anda pun dapat menambah keakraban dan kekompakan tim. Don’t: Lupa Mengembalikan Barang Pinjaman Tidak hanya soal uang yang menjadi masalah, namun terkadang barang-barang kecil seperti perlengkapan kantor dapat memicu perseteruan antar rekan kerja. Mungkin bagi Anda itu hal yang sepele, hanya sekedar meminjam pena atau strapless rekan Anda di meja sebelah. Namun, bagi orang lain tidak seperti itu. Walaupun hanya sekedar perlengkapan kantor yang tidak penting, namun itu menunjukkan bahwa Anda kurang bertanggung jawab. Segera kembalikan barang-barang yang Anda pinjem setelah memakainya. Pun jika sang rekan sudah pulang terlebih dahulu, tak ada salahnya meninggalkan notes kecil di mejanya sebagai tanda bukti Anda telah mengembalikan barang miliknya. 3 Keys For Woman Leader: Sebagai seorang perempuan yang memimpin dan membawahi sekian banyak perempuan-perempuan lainnya di kantor Anda, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tercipta hubungan kerja yang harmonis. 1. Empati Berikanlah perhatian kepada bawahan Anda. Tidak perlu berlebihan, sekedar menanyakan bagaimana kabar keluarganya sudah cukup membantu mencairkan suasana. Rekan kerja Anda pun merasa “mempunyai teman” yang peduli kepadanya. Selain itu tak ada salahnya memahami perasaan rekan kerja Anda, misalnya ketika keluarganya sedang tertimpa musibah dan Ia tidak dapat memberikan performa yang baik di kantor. Ajaklah Ia berbicara dan jadilah teman curhatnya bila Ia ingin berbagi. Ingat, lakukan ini bukan disaat jam kerja, agar lebih relax dan tidak mengganggu pekerjaan. 2. Berperan Ganda Anda diharapkan untuk dapat memiliki beberapa peran sekaligus. Sebagai pimpinan yang disegani, dan juga sebagai ibu yang dapat membimbing anak-anak buahnya. Karena disaat Anda menjadi seorang Ibu, rekan kerja Anda akan merasa lebih santai dan tidak sungkan mengungkapkan keluh kesahnya, serta mendapat banyak support secara moril. Seorang Ibu akan mencoba memahami kondisi anak-anaknya satu-persatu. Itulah yang dapat membuat rekan kerja Anda melihat pribadi Anda yang dapat diandalkan, dipercaya, sekaligus disegani. 3. Tegas Sedekat apapun Anda dengan bawahan Anda, berilah batasan-batasan tertentu. Di satu sisi mungkin Anda adalah teman curhat dan sahabat terpercaya, namun di sisi lain, ketika Anda sedang memimpin dan menunjukan otoritas Anda, pastikan mereka juga dapat melihat Anda sebagai pimpinannya. Tidak semua permintaan rekan Anda harus dituruti. Belajarnya untuk berkata “tidak” walaupun itu sullit. Pikirkan kembali konsekuensinya bagi Anda ketika harus membela rekan kerja yang sulit diatur walaupun Ia adalah sahabat Anda sendiri. Teks: Desy Budi Sumber: Psikolog Veronika Soepomo Foto: Istimewa
|




Woman Rules: When Your Working Partner All Woman
Sebelum melangkah lebih lanjut, ingatlah bahwa Anda sendiri seorang wanita! Memiliki berbagai tuntutan dan masalah tersendiri, dan menginginkan toleransi serta pengertian dari orang-orang disekeliling Anda. Rekan kerja wanita Anda pun menginginkan hal yang sama. Namun, kadang kala tidak semua orang dapat bersikap cukup asertif dan berani mengutarakan apa yang dirasa. Sebagai seorang profesional yang bijak, Anda harus dapat memilah-milah beberapa hal yang patut dan tidak patut Anda lakukan di kantor. Berikut adalah beberapa tips yang dikemukakan oleh psikolog Veronika Soepomo.
Don’t: Share Your Personal Story
Tanpa bermaksud untuk menjadi “sok perhatian”, bisa saja Anda menanyakan 

